Belajar Arab blog

Belajar Bahasa Arab Friendly, interaktif, dan mudah

Sunday, 23 September 2018

Terjemahan: Novel Disana Terlahir Disini Part II


 Part II
...
Ini adalah kopi. Mungkin orang-orang telah menghabiskanya bergelas-gelas kopi itu, dan menuangkan lagi. kopi pada waktunya yang pas adalah hal yang  sempurna. Orang-orang mungkin berbeda pendapat tentang rahasia dalam kopi, mereka memiliki pendapat masing-masing yang berbeda: pada aromanya, warnanya, harganya, kemurniannya, campuran kapulaganya, suhu perebusannya, bentuk cangkirnya, atau sifat-sifat lain padanya.
Adapun aku, menurutku kopi itu adalah tentang timing. Hal terbaik dari kopi adalah waktunya. Semakin kau ingin kopi itu di tanganmu dengan segera, semakin kau akan megharapkannya. Momen saat kemewahan menjadi suatu kebutuhan itu lah bagian terindah dari gaya hidup. Kopi, seharusny ada seseorang disana yang menyajikannya kepadamu. Kopi itu sebagaimana mawar. Karena  mawar itu seharusnya dihadiahkan kepadamu oleh seseorang. Karena tak ada satupun orang yang menghadiahkan mawar untuk diri sendiri. Maka bila kusediakan kopi itu untuk dirimu, maka kau pasti saat itu dalam kebebasan tanpa memiliki perindu juga kekasih. Anehnya posisimu saat itu… Sekalipun hal itu adalah suatu pilihan, kau pun harus merogoh kocek untuk kebebasanmu. Bila  kebebasan itu adalah suatu keharusan, kau  pun juga perlu menekan bel pintu masuknya.
Kopi, warnan-warnamu berwujud rasa dan perasaan. Coklat pirang, hitam, hitam gosong, sedang, dibalut tampang orang yang menyajikanmu, akan menghasilkan makna-makna yang beragam. Maka kopi bagi mereka yang baru mengenal sebelumnya bukanlah kopi yang nikmat, bukan juga kopi yang akan langsung ditolak kehadirannya oleh tamu sebelum apa yang ia meminta untuk disuguhkan yang lain. Kopi untuk saat menulis, bukanlah kopi untuk saat membaca, yang untuk saat bepergian juga berbeda dengan yang untuk saat tidak, juga yang untuk saat di hotel berbeda degan saat di rumah, yang dimasak dalam tungku pun berbeda dengan yang dengan alat khusus.
Di dalam sebuah kafe kopi cantik itu sendiri lah yang berwajah gembira, ketika orang-orang memasang wajah suram cemberut menyedihkan.  Sekalipun pengunjung fajar mengatakan kalau kau diusir dari keluargamu dan ia mengarahkanmu secara halus dan senyum licik, kami ingin kau menikmati secangkir kopi dari kami, ini juga adalahlah salah satu jenis penculikan atau pembunuhan. Dia yang tolol yaitu yang mau menikmati kopi dari yang mengarahkan. Kopi saat pelaminan juga berbeda dengan kopi saat bela sungkawa dimana kau kehilangan setiap maknanya (kopinya tawar). Pelayan sedih yang  menyajikannya pada pengunjung pun tak tahu perihal tamunya yang sedang sedi, ia tak mengenali mereka dan tak menanyai mereka bagaimana bisa mereka lebih memilih kopi itu? Biarlah pelayan tetap menjadi pelayan, kopi tetap menjadi kopi yang cangkirnya bebentuk kerucut tanpa kuping. Waktu sama sakali tidak mendukungmu saat itu, begitu juga atmosfernya, hanya kopi itu lah yang dapat memperhatikanmu di hari seperti itu. Hanya kopi itu lah orang yang masih berduka sampai di penghujung hari itu. seakan-akan nama kopi itu merasa sedih karena kematian itu selamanya.
Pagi ini, Mahmud datang menyuguhi kopi untukku. Waktunya tepat sekali. Ia menemaniku bersama hujan deras di luar. Dengan bahagia, kopi itu seakan-akan berselisih dengan kabar-kabar buruk.
“Tapi merokok itu gratis, semoga Allah meridhai kalian. Semua ada waktunya, dan kita sudah sampai. ”
“Jam berapa wahai pak Haji? Tolong katakan dua jam, tiga jam, atau empat… kawan bapak menagatakan kadang kita bisa sampai, kadang tidak.”
Mahmud tersenyum lalu mengkoreksi perkataannya dengan percaya diri:
“Saya sudah bilang seharusnya kita sudah sampai”
Anak pada awal abad kedua dahinya luas. Pada pipi kiri nya terlukis tahi lalat memalukan. Namun tak pernah aku batasi jarak dengannya. Kedua matanya kecil bercampurkan warna hitam dan kilauannya. Percaya diri bak sebuah lampu baru. Siap sedia bak pengacara dengan hadiah rahasia pemikirannya. Meyakinkan suaranya tanpa terdengar patah-patahnya. Kurus meskipun saat memakai baju musim dingin. Karakternya serius namun terlihat santai menggampangkan. Tenang dan memenagkan. Meski muda umur, sudah dapat menyetir mobil dengan hati-hati, professional, dan terdepan, terlihat tanpa rasa hati-hati.
Diantara aku dan nyonya yang dibelakang kami ada seorang bocah bermuka sedih duduk. Aku berbicara pada diri sendiri pasti dia memiliki cerita dibalik kesedihannya. Aku yang tidak suka dipanggil “Tuan” pun tidak bertanya tentang kesedihannya, tapi seperti mencoba mengubah perasaannya sementara waktu. Akhirnya kutemukan senyum di bibirnya. Senyum jahat. Kedua matanya mengarahkanku pada pemandangan yang mengejutkan. Nyonya baik itu mengangangkat ujung kerudungnya dengan tangan kanan, lalu membentangkannya ke depan. Gerakannya melilitkan kain panjang hitam pekat itu dengan bagian bawah berlubang untuk mengeluarkan tangannya agar bisa meminumkan kopi ke mulutnya dengan cepat, Terlatih, terlihat dari jurusnya dalam hal ini. Kemudian ia uraikan ikatannya untuk menutup kerudung hitamnya dengan segera, sebelum ada orang yang melihat apa yang ia coba sembunyikan. Aku tercengang melihatinya, walaupun bocah ini baru sekali ini bertemu danganku ia telah menunjukkanku pemandangan ini, karena belum pernah aku temui sebelumnya melihat nyonya baik itu sedang menyantap minuman atau makanan di tempat umum. Namun, saat aku mengintipnya lagi, lalu terlihat ia membuka kerudung yang telah ia benarkan kembali, kemudian ia masukkan gelas kopi itu dengan hati-hati dibaliknya. Lalu ia telan tegukan lain. Sepertinya itu adalah kebiasaan rutin miliknya.
Pada ketiga kursi di tengah, gadis muda itu duduk. Rambutnya dikucir seperti ekor kuda dan kedua telingganya tidak beranting, (aku teringat kawanku yang tampan”Ali si tulang ikan” dan kepanikanya yang campur aduk mulai dari memungkiri kebutuhan seorang wanita akan anting untuk dipasang di kedua telinganya).  Juga ada dua laki-laki yang salah satunya pasti berbadan sangat pendek, dilihat dari pendeknya ukuran sorban dan kecilnya ukuran ikal yang dicantolkan di kursi. Aku hanya membayangkannya, tidak melihat langsung. Keduanya adalah pria gemuk berpenampilan lucu. Sebelum dia menyajikan kopi pada teman duduknya, Mahmud malah mengutarakan lelucon:
“Hei sobatku! kau beri ia kopi dan jangan gratis!!!”
Kami semua tertawa, sampai nyonya bercadar matanya juga tertawa dengan suara yang keras. Aku berkata dalam hati jika mahmud membuka lelucon dengan sahabat dekatnya, pasti ini tidak akan berakhir. Sepertinya Mahmud ingin memulai menambah-nambah percakapannya agar atmosfer berubah menjadi seperti rsuasana musim piknik, lalu ia berkata sengit:
“Apa mereka tidak memiliki kawan ?”
Lalu menambahkan ejekan berdialek Mesir:
“Orang Hebron adalah orang yang paling membingungkan, karena Hebron adalah negeri para pria…”
“Apakah kau sahabatku, Mahmud??”
“Iya, dulu. Sekarang aku sudah kapok…”
Kedua sahabat itu tertawa keras begitu juga kami yang bersama mereka. Mahmud berkata lagi, kali ini dengan sungguh-sungguh:
 “Aku berasal dari perkemahan Am’ari.”
Camp Ni’im  juga ambigu.”
Begitulah orang-orang Mesir saling bercanda tentang para petinginya, sedangkan lawakan orang-orang Suriah yaitu tentang penduduk Homs (nama kota di Suriah), lawakan orang Yordan kebanyakan tentang penduduk kota Thafilah, Lebanon tentang dongeng ‘ayahnya budak’ dan topik candaannya selalu tentang ‘mereka yang tidak berdosa’ melawan kekejaman. Adapun orang-orang Palestina, lelucon mereka penduduk kota Hebron, topiknya selalu tentang yang ‘keras kepala’. Orang-orang biasanya bertanya tentang akhir lelucon itu, namun Mahmud malah bertanya kepada penumpangnya yang berasal dari Hebron dengan pertanyaan yang jelas aneh tentang awal pertama lelucon yang dilontarkan, lawan pertanyaan orang-orang Hebron, penumpang itu pun menjawabnya sambil duduk:
“Demi Tuhan, Aku tidak tahu tapi contohnya serius, dahulu diceritakan ada orang Hebron yang terjatuh dari lantai 7 tapi tidak meninggal. Lalu ia berdiri sehat baik-baik saja. Seseorang dari mereka mengatakan—Ambillah seratus Lira (uang Turki bernilai 0.282941 U.S. dollars pada Juni 2017) lalu coba jatuhlah kedua kalinya—Namun orang Hebron itu menolak dan berkata—Lalu siapa yang menjamin kalau saya jatuh baik-baik saja kedua kalinya?—“
“Lalu apa kira-kira lelucon terburuk bagi penduduk Hebron? Maksudku lelucon yang paling tidak dapat dicerna?”, Tanya Mahmud kembali.
“Mungkin ketika seorang imigran, Baruch Goldstein menembaki para jamaah sholat di Masjid Ibrahimi, Hebron, Palestina dan menewaskan 29 warga Hebron. Lalu seseorang berkata setelah beberapa hari pembunuhan itu—Waktu itu mungkin jumlah korban akan lebih banyak, andai Baruch tidak berusaha menargetkan pada kepala mereka.”
Aku belum pernah mendengar lelucon seperti ini sebelumnya, meskipun pembunuhan itu terjadi pada tahun 1994. Jadi aku tak tertawa. Peristiwa-peristiwa pembunuhan semakin meluap-luap saat ku ulang-ulang mendengarkan lelucon pembunuhan itu. Perang ini tidak cukup hanya dengan militer yang disokong senjata-senjata modern terbaru. Orang Palestina yang tidak bersenjata akan tidak suka terlihat dramatis dikasihani. Disenjatai dengan tawa, ironi hingga rebutan kepemilikan, perolok-olokan atas drama yang terus berulang-ulang tanpa ada pencerahan setiap akhir titik perang. Tembok pagar berantai, gambar tentang larangan berjalan-jalan, pemblokiran yang berulang-ulang, dan penjajahan panjang membawa keluhan petaka diantara orang-orang. Sedangkan aku hanya kebingungan bila terbawa masalah itu, akan kah aku menjadi kuat atau lemah. Bila saja kegelapan kembali sebagai suatu kilauan dari ciri penghambaan, karena ia tetap percaya diri atas sebagai pemilik tunggal dari haknya. Maka bila begitu, ia akan menjadi bagian pelengkap rasa kemarahan dan menjadi penghimpun untuk munculnya unsur-unsur kekuatan rahasia. 


Friday, 21 September 2018

Terjemahan: Novel Disana Terlahir Disini Part I



Disana Terlahir Disini 

Karya: Murid Al-Bargutsi
Penerjemah : Fathurrydoo

Bab I: Mahmud Si Sopir



Sekarang ini kami telah sampai dengan selamat di kota Yerikho seperti yang ia janjikan. Aku masih belum bisa faham betul penyebab  pastinya kejadian di tempat itu. Mungkin sebabnya adalah nasib, ponsel-ponsel, atau kecerdikan penduduk kampung, atau para pengawas. Atau kemungkinan bisa saja, sebenarnya takdirnya belum juga direstui setelah para penduduk Palestina meninggal karena sebab tragedi yang berlangsung di Jalanan. Namun hal itu bukanlah yang menyibukkan fikiranku, sekarang aku sedang memikirkan sopir taksi yang bernama Mahmud.  
Aku berhenti untuk melihatnya dibawah naung bayangan hotel itu, di tempat bernama Ramallah. Ia tiba sesegera mungkin sebagaimana janjinya. Ini bukanlah hal yang aneh untuk Safrayat Darwish, wanita yang dikenal ketelitiannya, supir taksi itu berputar meninggalkan mobilnya dan turun ditengah gerimis hujan, dan menghadapku:
  “Tuan Bargutsi?”
Ia mengambilkan koper kecil untuk perjalannku dari lantai (koperku selalu kecil agar nyaman ). Lalu bergegas menyediakan tempat pada bagasi mobil untuk koper itu. Baik sekali, ia tidak membawanya ke atas mobil seperti koper-koper lain. Kami tidak akan kehilangan banyak waktu lagi untuk mencari alamat-alamat mereka di sekitar perbukitan Ramallah dan termpat-tempat nya yang rendah. Aku duduk di dalam mobil taksi kuningnya. Aku berkata pada diriku sendiri ‘ini awal yang baik bagi hariku’ .
Ia mengantarkan kami sampai Kota Yerikho tanpa satu kata pun. Seperti ia sedang menyembunyikan suatu rahasia, dan mencari waktu yang tepat untuk mengungkapkannya. Jelas, karena ia sudah memutuskan untuk menghindari batas Qalandya. Pengelap kaca tak lagi berguna untuk membersihkan ketika tekanan kabut yang mulai menyelimuti udara seperti warna seng, percuma saja perlawanannya dengan hujan yang mulai bertambah deras. Mobil-mobil terlihat sedikit di jalanan dan yang berlalu lalang terlihat lebih sedikit.
Kami telah melewati perbatasan Ramallah.
            Semuanya terlihat seperti biasa sampai sopir itu menerima panggilan dari ponselnya yang menghentikannya dalam beberapa detik, kemudian ia menambah kecepatannya, sangat cepat sekali. Setelah beberapa kilometer, ia keluar dari jalan umum, memasuki desa yang ia lihat sebelumnya, aku tidak tahu nama desa itu. Aku merasa sungkan untuk bertanya namanya. Lalu, ia menikung tajam mengikuti jalan. Kemudian berbelok-belok diantara beberapa rumah sebelum kami keluar beberapa detik dari jalan utama beraspal.
“Selamat pagi semua, Saya Mahmud. Ini adalah mobil terakhir untuk menuju jembatan hari ini, Israel telah mengumumkan pada diplomasi luar negeri kita, bahwa mereka akan menyerbu pada malam hari atau besok dan Israel juga meminta mereka untuk membuat rencana. Anak-anak haram! yang penting mereka punya banyak hubungan luar negeri, sedangkan kami, seperti bukan manusia. Pasukan mereka melarikan diri, jalanan terblokir, dan pesawat-pesawat ada di setiap tempat. Cuaca jelek sebagaimana kalian lihat, namun kita seharusnya sampai ke jembatan itu dengan bantuan ‘Allah’!. Kopi? Tuangkan untuk semuanya wahai tuan Haji”. Kaum tua malah menjadi pembantu mereka, “Silahkan kopinya…  

Para penumpang tidak terlihat kebingunan atas kabar penjajahan Israel yang akan datang seperti yang diumumkan Mahmud, namun  seorang  penumpang gemuk yang sedang duduk didepanku di kursi tengah berkomentar dengan sindiran yang tajam:
“Sepertinya film ini kurang seru!, mereka akan membunuh kita dengan kesepian setiap hari, dan pada masa selanjutnya, mereka akan kehilangan kesempatan untuk membunuh kita (jika kita tetap bersama), yang penting walaupun mereka sudah menyerbu kita ratusan kali, pasti akan sia-sia saja, percuma! juga siapapun yang mencoba meniru mereka, sangatlah bodoh akalnya. Mereka tak punya kegiatan lain selain  memancing kita dan membunuh. Setiap kali mereka menyerang, lalu memancing amarah, memborbardir dengan pesawat-pesawat, lalu lepas landas, dan lalu apa lagi?

Tetangganya berkata:
“Yang benar saja!  siapapun yang melihat penjajahan mereka pada desa-desa kami dan  tenda-tenda kami akan mengira mereka keluar untuk memerangi Cina! Dengan kekuatan mereka itu mereka bisa menjajah siapapun diantara kami, lalu  membuang kami ke luar negeri, memenjarakannya atau membunuhnya, meski tanpa tank-tank, juga tanpa baju armor, maupun jet tempur F16,  bahkan Yasser Arafat juga (Presiden Pertama Palestina), siapakah yang berwenang melarang kekejaman mereka?”
Ia berhenti berbicara sejenak kemudian berkata dengan tenang seperti berbicara dengan dirinya sendiri:
“Tapi wahai pamanku, proyek mereka tidaklah bagus. Menurut dugaan kita Israel menurut prediksi kita mereka tidaklah terdesak bersama tentaranya, Sial, mereka melarikan diri meninggalkan kita! Pelarian mereka bersamaan dengan pembunuhan kami semua. Proyek-proyek mereka sama sekali tidak melibatkan Tuhan baik  sebelum, maupun sesudahnya, tahun demi tahun, mereka sudah tahu bahwa kesombongan saja lah yang mereka libatkan. Andai kau punya wewenang melarang mereka, tak diragukan lagi, mereka akan kalah telak… ”
Beberapa tahun yang lama aku yang telah menjauh dari mereka. Anak-anak negeriku, dan juga dari detail kehidupan sehari-hari mereka— tak dapat menganggap remeh rencana-rencana ‘horor’ mereka seperti saat menjajah kota-kota dan desa-desa kami sendirian. Anak-anak dari seluruh kota dan desa yang belum mendengar cerita tentang pertentangan ini, mereka hanya dapat menganggap perkara ini seperti lelucon belaka. Begitu kah kebiasaan mereka? Bercekcok, atau itu hanyalah sebuah kepercayaan yang terhimpun oleh budaya lokal dari perpecahan ini? Atau itu adalah upaya pihak oposisi yang berbentuk cara membuat mereka berlama-lama berada di tempat itu?
Akhirnya ku putuskan tuk menerima kenyataan kalau masalah ini biasa saja. Aku tidak akan  memperlihatkan kegelisahanku besok atau lusa dari apa yang akan diperebuat para teknisi kejam di camp Sabran dan Syatila Palestina itu, saat tank dan tentara tangguh  mereka dengan baju armor perangnya menyerang di jalanan kita. Dalam diriku aku berkata pada jiwaku sendiri: andai saja para pemimpinan kami lebih mengerikan dari Israel, andai pemimpin kami juga mengetahui fakta dilema tentang Israel sebagaimana yang diketahui para penumpang ini.
            Supir itu menyeduh racikan kopi dari bawah kakinya, lalu memberikannya untuk kakek penumpang disampingnya dengan menuangkannya pada beberapa mulut gelas plastik kecil.
            Bersamaan dituangkannya pada gelas pertama aroma kopi mulai bercampur aroma ketakutan, bertarung sengit, dan akhirnya aroma ketakutan lah yang menang.
            “Semoga Allah menurunkan kesialan bagi Sharon*. Ayo anak-anakku, berhati-hatilah darinya. Bagikan kopinya! silahkan diminum… ”


*Ariel Sharon: Former Prime Minister Israel ke-11 (1928-2014).
            Segelas kopi dari tangan gadis yang duduk didepanku akhirnya sampai, dari kursi sebelah tengah, kuterimanya dengan hangat, ku angkat gelas itu menuju kedua bibirku, kuberi dia ciuman pertama.

Tuesday, 18 September 2018

NAHWU: Jenis-jenis Kata Bahasa Arab | أقسام الكلمة




dalam bahasa Arab, kata terbagi menjadi 3 macam: isim, fiil,dan harf
  • Isim | إســم
yaitu apa yang menunjukkan sesuatu yang bernama, yang mana masa (waktu) bukanlah bagian dari mereka. Contoh:
- الإحسانُ | kebaikan itu
- ٌمحمد | Muhammad
- جيشٌ | Tentara
dll
  • Fiil   | فعل,
Fiil (fi'l) merupakan apa yang menunjukkan terjadinya sesuatu dengan syarat adanya waktu sebagai bagian darinya. Seperti:

-  َاجتهد | bersungguh-sungguh
- حفِظَ | menghafalkan
- ْاجتهد | Bersungguh-sungguhlah
  • Harf (partikel) | حرف
yaitu setiap kata yang tidak muncul maknanya kecuali bila bersama-sama dengan jenis kata lain. Contoh: مِن. على, حتّى. أن, لم, هل, أو, أم , يا , بل,ب, في, لا  | (dari kanan): dari, di atas, sampai, -, tidak/belum, apakah, atau, hai, tapi, dengan, di dalam, tidak, dll







Monday, 17 September 2018

NAHWU: BAB 1 : أساس النحو والكلام المفيد (Dasar Nahwu dan Kalimat Sempurna)




Definisi        

Bahasa merupakan suatu wasilah saling memahami di antara manusia, alat pengekspresian makna yang ada di tiap diri insan. Bahasa terdiri dari kata-kata, sedangkan kata-kata satuannya adalah kata, dan kata sendiri terdiri dari huruf-huruf.

Di kalangan ahli nahwu, kalimat yaitu:

كل ما تركب من كلمتين أو أكثر, وأفاد معنى تماما كالجملة المفيدة.

yaitu setiap yang tersusun dari dua kata atau lebih dan dapat memberikan makna penuh sebagaimana kalimat sempurna.

Kalimat (disebut jumlah) dalam bahasa Arab dibagi menjadi 2:

A. Jumlah Ismiyah:
yaitu yang diawali dengan Isim (kata benda), seperti:

   الحياةُ رحلةٌ قصيرةٌ    
   hidup itu piknik yang sebentar.

B. Jumlah Fi'liyah:
yaitu yang diawali dengan fiil (kata kerja), seperti:

  . َيُكَافِئُ اللهُ المُحْسِنِيْن
   Allah mencukupi orang-orang yang berbuat baik.

NAHWU: Dasar Nahwu dan Kalimat Sempurna

ilmu nahwu atau yang biasa dikenal dalam linguistik sebagai ilmu sintaksis merupakan salah satu pembahasan gramatika bahasa Arab, selain dari pada ilmu sharaf (morfologi). Dalam tulisan ini akan kita pelajari seluk beluk ilmu nahwu berdasarkan kitab Nahwu Al-Kaafi karangan Professor Aiman Amin Abdul Ghaniy dari Mesir. Selamat membaca

BAB 1 :
أساس النحو والكلام المفيد
Dasar Nahwu dan Kalimat Sempurna baca disini

BAHASAN 1
- Dasar Nahwu |  أساس النحو baca disini

- Macam-macam Kata أقسام الكلمة  baca disini

BAHASAN 2
- Macam-macam Fiil / Kata Kerja | أقسام الفعل


Sunday, 16 September 2018

Mesin-Mesin Penerjemah yang bisa menerjemahkan Bahasa Arab

Akhwat-akhwatnya Google Translate yang Mungkin belum Anda Ketahui

 

Kemudahan Teknologi  selalu memungkinkan banyak manfaat bagi kita. Dalam dunia penerjemahan pun ini berlaku, katakanlah dulu kita belajar bahasa Arab harus membuka kamus-kamus yang tebal dulu untuk mengetahui suatu arti, namun sekarang lewat internet semuanya pun berubah. Tidak hanya kamus yang bisa online, namun proses penerjemahan kalimat pun bisa melalui internet.

 Menurut Wordweb dictionary, mesin Penerjemah (machine translation): The use of computers to translate from one language to another  (kegunaan komputer untuk menerjemahkan satu bahasa ke yang lain). Mungkin dari antum-antum sekalian pasti tidak asing lagi dengan Google Translate, nah itu contoh dari mesin penerjemah. Bedanya dengan kamus biasa, mesin penerjemah bisa menerjemahkan kalimat, sedangkan kamus biasanya tidak. Tapi sebenarnya masih ada lagi makhluk-makhluk sejenis produk keluaran Google itu yang mungkin saja masih asing di pendengaran anda, tentunya yang bisa menerjemahkan dari bahasa Arab, seperti yang di bawah ini:

1.       Microsoft Bing Translator:


Nah ini merupakan mesin penerjemah keluaran dari Microsoft, di sini kita dapat menerjemahkan teks Arab ke berbagai bahasa di dunia. Kabarnya mesin ini sudah menggunakan teknologi AI (Artificial Inteligence) yang mempu menirukan gaya bahasa yang lebih manusiawi. Mesin ini dapat digunakan melalui web-nya langsung, dan sudah diadopsi sebagai salah satu fitur medsos twitter, jadi kalau kamu nemuin fitur terjemahan di twitter, nah itu lah kerjaan sampingannya Microsoft Bing.


2.       Babylon translator
Mungkin kurang terkenal di kalangan kita, karena mesin terjemah ini tidak menyediakan penerjemahan dari Arab ke Indonesia dan sebaliknya, yang ada yaitu Arab-Inggris dan bahasa-bahasa lain. Ana pernah mengguakan ini namun banyak terjemahan yang kurang tepat, atau kadang tidak dikenal, mungkin karena database nya kurang. Namun kelebihannya yaitu bisa ada versi aplikasi PC nya.

3.       Yandex
Yang Ini lumayan unik, tak hanya bisa menerjemahkan kalimat. Namun juga bisa menerjemakan gambar dan webpage. So, buat antum yang lagi males nulis ya make gambar saja, atau tinggal copy-paste alamat web yang kamu gak ngerti.


4.       Tradduka
Yang ini juga lumayan keren, karena User Interfacenya yang enak di mata, serta fitur-fiturnya yang beda dari yg lain, seperti fitur multi terjemah yang mampu menerjemahkan satu kata ke berbagai bahasa sekaligus, konverter satuan, konverter nilai mata uang, dan tentu saja kamus online. Keren to?
 


5.       Wordlingo
Yang satu ini emang agak senior, terlihat dari tampangnya. Fitur-fiturnya diantaranya ialah penerjemah teks, chat, email dan bebas. Sayangnya hanya tersedia dalam 15 bahasa saja, dan ada batas jumlah kata untuk pemakaiannya (sebanyak 500 kata).



6.       Hellotalk
Nah yang satu ini sebenarnya bukan mesin terjemah, namun nama aplikasi medsos belajar bahasa keluaran Cina dalam platform android. Uniknya Hellotalk menyediakan fitur terjemahan yang bisa menerjemahkan status-status status yang gak kamu ngerti maksudnya. Tersedia untuk berbagai bahasa, aplikasi ini juga bisa menerjemahkan teks Arab ke Indonesia lo, kamu juga bisa sharing-sharing dan berkenalan dengan teman baru di seluruh dunia juga. Namun, fitur ini ada limit nya sekitar 15 kali terjemahan gratis dalam sehari, untuk menghapus fitur ini kamu perlu upgrade ke versi pro. So, segera unduh dan buat akunnya ya gaes...


       Tamam, mungkin itu saja mesin terjemah online yang baru ana ketahui, kalo ada yang baru atau kalau kamu dapet yang lain, komen di bawah ya...

Saturday, 15 September 2018

#CatatanPenerjemah : menerjemahkan 'hanya'


#CatatanPenerjemah : menerjemahkan 'hanya' / 'cuma'
       Dalam bahasa Indonesia kita menggunakan kata 'hanya' untuk memberitahukan keterbatasan sesuatu / kesendirian. Seperti pada kalimat:* Saya hanya mendengarkan* Cintamu hanya ilusi (cie..)* Hanya itu saja?      Dalam bahasa Arab. 'hanya' (only) memiliki beberapa Arti sebagai berikut:


 [adv] and no other, just; alone  :  فَقَطْ، قَطْ، فَحَسْبُ، إِنَّمَا، ليس غير، ليس إلاّ، ليس سوى

    Namun yang sering digunakan adalah faqath.

contoh:

~ A: Bagaimana anda melakukannya (كيف تفعله؟)       kayfa taf'aluh?
~ B: Hanya pandangilah dia, maka ia akan pergi jauh ( فقط تنظره فسيذهب بعيدا )       faqath tanzhuruh fa sayadzhab ba'iidan... 

    Bentuk lain dari terjemahan 'hanya' dalam bahasa Arab adalah dengan uslub 
{huruf nafiy* .... dan huruf  istisna* }, seperti kalimat tauhid laa ilaaha illallah
~ TS: Hanya Allah lah Tuhanku / tiada Tuhan selain Allah:
    TT: (لا إلــه إلّا الله)

 ~ TS : cuma kamu saja cintaku / cintaku cuma kamu saja
    TT: (ما عندي حبٌّ سواكِ)