Part II
...
Ini adalah
kopi. Mungkin orang-orang telah menghabiskanya bergelas-gelas kopi itu, dan menuangkan
lagi. kopi pada waktunya yang pas adalah hal yang sempurna. Orang-orang mungkin berbeda
pendapat tentang rahasia dalam kopi, mereka memiliki pendapat masing-masing
yang berbeda: pada aromanya, warnanya, harganya, kemurniannya, campuran
kapulaganya, suhu perebusannya, bentuk cangkirnya, atau sifat-sifat lain
padanya.
Adapun
aku, menurutku kopi itu adalah tentang timing. Hal terbaik dari kopi
adalah waktunya. Semakin kau ingin kopi itu di tanganmu dengan segera, semakin kau akan
megharapkannya. Momen saat kemewahan menjadi suatu kebutuhan itu lah bagian
terindah dari gaya hidup. Kopi, seharusny ada seseorang disana yang menyajikannya kepadamu. Kopi
itu sebagaimana mawar. Karena mawar itu
seharusnya dihadiahkan kepadamu oleh seseorang. Karena tak ada satupun orang
yang menghadiahkan mawar untuk diri sendiri. Maka bila kusediakan kopi itu
untuk dirimu, maka kau pasti saat itu dalam kebebasan tanpa memiliki perindu juga
kekasih. Anehnya posisimu
saat itu… Sekalipun hal itu adalah suatu
pilihan, kau pun harus merogoh kocek untuk kebebasanmu. Bila kebebasan itu adalah suatu keharusan, kau pun juga perlu menekan bel pintu masuknya.
Kopi,
warnan-warnamu berwujud rasa dan perasaan. Coklat pirang, hitam, hitam gosong,
sedang, dibalut tampang orang yang menyajikanmu, akan menghasilkan makna-makna
yang beragam. Maka kopi bagi mereka yang baru mengenal sebelumnya bukanlah kopi yang
nikmat, bukan juga kopi yang akan langsung ditolak kehadirannya oleh tamu sebelum
apa yang ia meminta untuk disuguhkan yang lain. Kopi untuk saat menulis,
bukanlah kopi untuk saat membaca, yang untuk saat bepergian juga berbeda dengan
yang untuk saat tidak, juga yang untuk saat di hotel berbeda degan saat di
rumah, yang dimasak dalam tungku pun berbeda dengan yang dengan alat khusus.
Di dalam
sebuah kafe kopi cantik itu sendiri lah yang berwajah gembira, ketika
orang-orang memasang wajah suram cemberut menyedihkan. Sekalipun pengunjung fajar mengatakan kalau kau
diusir dari keluargamu dan ia mengarahkanmu secara halus dan senyum licik, kami
ingin kau menikmati secangkir kopi dari kami,
ini juga adalahlah salah
satu jenis penculikan atau pembunuhan. Dia yang tolol yaitu yang mau menikmati
kopi dari yang mengarahkan. Kopi saat pelaminan juga berbeda dengan kopi saat
bela sungkawa dimana kau kehilangan setiap maknanya (kopinya tawar). Pelayan
sedih yang menyajikannya pada pengunjung
pun tak tahu perihal tamunya yang sedang sedi, ia tak mengenali mereka dan tak
menanyai mereka bagaimana bisa mereka lebih memilih kopi itu? Biarlah pelayan
tetap menjadi pelayan, kopi tetap menjadi kopi yang cangkirnya bebentuk kerucut
tanpa kuping. Waktu sama sakali tidak mendukungmu saat itu, begitu juga atmosfernya,
hanya kopi itu lah yang dapat memperhatikanmu di hari seperti itu. Hanya kopi
itu lah orang yang masih berduka sampai di penghujung hari itu. seakan-akan nama
kopi itu merasa sedih karena kematian itu selamanya.
Pagi ini, Mahmud datang menyuguhi kopi untukku. Waktunya tepat sekali. Ia
menemaniku bersama hujan deras di luar. Dengan bahagia, kopi itu seakan-akan
berselisih dengan kabar-kabar buruk.
“Tapi merokok itu gratis, semoga Allah meridhai kalian. Semua ada waktunya,
dan kita sudah sampai. ”
“Jam berapa wahai pak Haji? Tolong katakan dua jam, tiga jam, atau empat… kawan bapak menagatakan
kadang kita bisa sampai, kadang tidak.”
Mahmud tersenyum lalu mengkoreksi perkataannya dengan percaya diri:
“Saya sudah bilang seharusnya kita sudah sampai”
Anak pada awal abad kedua dahinya luas. Pada pipi kiri nya terlukis tahi
lalat memalukan. Namun tak pernah aku batasi jarak dengannya. Kedua matanya
kecil bercampurkan warna hitam dan kilauannya. Percaya diri bak sebuah lampu baru.
Siap sedia bak pengacara dengan hadiah rahasia pemikirannya. Meyakinkan
suaranya tanpa terdengar patah-patahnya. Kurus meskipun saat memakai baju musim
dingin. Karakternya serius namun terlihat santai menggampangkan. Tenang dan
memenagkan. Meski muda umur, sudah dapat menyetir mobil dengan hati-hati,
professional, dan terdepan, terlihat tanpa rasa hati-hati.
Diantara aku dan nyonya yang dibelakang kami ada seorang bocah bermuka sedih
duduk. Aku berbicara pada diri sendiri pasti dia memiliki cerita dibalik kesedihannya.
Aku yang tidak suka dipanggil “Tuan” pun tidak bertanya tentang kesedihannya,
tapi seperti mencoba mengubah perasaannya sementara waktu. Akhirnya kutemukan
senyum di bibirnya. Senyum jahat. Kedua matanya mengarahkanku pada pemandangan
yang mengejutkan. Nyonya baik itu mengangangkat ujung kerudungnya dengan tangan
kanan, lalu membentangkannya ke depan. Gerakannya melilitkan kain panjang hitam
pekat itu dengan bagian bawah berlubang untuk mengeluarkan tangannya agar bisa
meminumkan kopi ke mulutnya dengan cepat, Terlatih, terlihat dari jurusnya
dalam hal ini. Kemudian ia uraikan ikatannya untuk menutup kerudung hitamnya dengan
segera, sebelum ada orang yang melihat apa yang ia coba sembunyikan. Aku tercengang melihatinya, walaupun bocah ini baru sekali ini bertemu
danganku ia telah menunjukkanku pemandangan ini, karena belum pernah aku temui sebelumnya
melihat nyonya baik itu sedang menyantap minuman atau makanan di tempat umum.
Namun, saat aku mengintipnya lagi, lalu terlihat ia membuka kerudung yang telah
ia benarkan kembali, kemudian ia masukkan gelas kopi itu dengan hati-hati dibaliknya.
Lalu ia telan tegukan lain. Sepertinya itu adalah kebiasaan rutin miliknya.
Pada ketiga kursi di tengah, gadis muda itu duduk. Rambutnya dikucir
seperti ekor kuda dan kedua telingganya tidak beranting, (aku teringat kawanku
yang tampan”Ali si tulang ikan” dan kepanikanya yang campur aduk mulai dari memungkiri
kebutuhan seorang wanita akan anting untuk dipasang di kedua telinganya). Juga ada dua laki-laki yang salah satunya pasti
berbadan sangat pendek, dilihat dari pendeknya ukuran sorban dan kecilnya
ukuran ikal yang dicantolkan di kursi. Aku hanya membayangkannya, tidak melihat
langsung. Keduanya adalah pria gemuk berpenampilan lucu. Sebelum dia menyajikan
kopi pada teman duduknya, Mahmud malah mengutarakan lelucon:
“Hei sobatku! kau beri ia kopi dan jangan gratis!!!”
Kami semua tertawa, sampai nyonya bercadar matanya juga tertawa dengan
suara yang keras. Aku berkata dalam hati jika mahmud membuka lelucon dengan
sahabat dekatnya, pasti ini tidak akan berakhir.
Sepertinya
Mahmud ingin memulai menambah-nambah percakapannya agar atmosfer berubah
menjadi seperti rsuasana musim piknik, lalu ia berkata sengit:
“Apa mereka tidak memiliki kawan ?”
Lalu menambahkan ejekan berdialek Mesir:
“Orang Hebron adalah orang yang paling membingungkan, karena Hebron adalah
negeri para pria…”
“Apakah kau sahabatku, Mahmud??”
“Iya, dulu. Sekarang aku sudah kapok…”
Kedua sahabat itu tertawa keras begitu juga kami yang bersama mereka.
Mahmud berkata lagi, kali ini dengan sungguh-sungguh:
“Aku berasal dari perkemahan Am’ari.”
“Camp
Ni’im juga ambigu.”
Begitulah
orang-orang Mesir saling bercanda tentang para petinginya, sedangkan lawakan
orang-orang Suriah yaitu tentang penduduk Homs (nama kota di Suriah), lawakan
orang Yordan kebanyakan tentang penduduk kota Thafilah, Lebanon tentang dongeng
‘ayahnya budak’ dan topik candaannya selalu tentang ‘mereka yang tidak
berdosa’ melawan kekejaman. Adapun orang-orang Palestina, lelucon mereka
penduduk kota Hebron, topiknya selalu tentang yang ‘keras kepala’. Orang-orang biasanya
bertanya tentang akhir lelucon itu, namun Mahmud malah bertanya kepada
penumpangnya yang berasal dari Hebron dengan pertanyaan yang jelas aneh tentang
awal pertama lelucon yang dilontarkan, lawan pertanyaan orang-orang Hebron,
penumpang itu pun menjawabnya sambil duduk:
“Demi
Tuhan, Aku tidak tahu tapi contohnya serius, dahulu diceritakan ada orang
Hebron yang terjatuh dari lantai 7 tapi tidak meninggal. Lalu ia berdiri sehat
baik-baik saja. Seseorang dari mereka mengatakan—Ambillah seratus Lira (uang
Turki bernilai 0.282941 U.S. dollars pada Juni
2017) lalu coba jatuhlah kedua kalinya—Namun orang Hebron itu menolak
dan berkata—Lalu siapa yang menjamin kalau saya jatuh baik-baik saja kedua
kalinya?—“
“Lalu apa
kira-kira lelucon terburuk bagi penduduk Hebron? Maksudku lelucon yang paling
tidak dapat dicerna?”, Tanya Mahmud kembali.
“Mungkin ketika
seorang imigran, Baruch Goldstein menembaki para jamaah sholat di Masjid
Ibrahimi, Hebron, Palestina dan menewaskan 29 warga Hebron. Lalu seseorang berkata
setelah beberapa hari pembunuhan itu—Waktu itu mungkin jumlah korban akan lebih
banyak, andai Baruch tidak berusaha menargetkan pada kepala mereka.”
Aku belum
pernah mendengar lelucon seperti ini sebelumnya, meskipun pembunuhan itu
terjadi pada tahun 1994. Jadi aku tak tertawa. Peristiwa-peristiwa pembunuhan
semakin meluap-luap saat ku ulang-ulang mendengarkan lelucon pembunuhan itu.
Perang ini tidak cukup hanya dengan militer yang disokong senjata-senjata
modern terbaru. Orang Palestina yang tidak bersenjata akan tidak suka terlihat
dramatis dikasihani. Disenjatai dengan tawa, ironi hingga rebutan kepemilikan,
perolok-olokan atas drama yang terus berulang-ulang tanpa ada pencerahan setiap
akhir titik perang. Tembok pagar berantai, gambar tentang larangan
berjalan-jalan, pemblokiran yang berulang-ulang, dan penjajahan panjang membawa
keluhan petaka diantara orang-orang. Sedangkan aku hanya kebingungan bila
terbawa masalah itu, akan kah aku menjadi kuat atau lemah. Bila saja kegelapan
kembali sebagai suatu kilauan dari ciri penghambaan, karena ia tetap percaya
diri atas sebagai pemilik tunggal dari haknya. Maka bila begitu, ia akan
menjadi bagian pelengkap rasa kemarahan dan menjadi penghimpun untuk munculnya
unsur-unsur kekuatan rahasia.