Disana Terlahir Disini
Karya: Murid Al-Bargutsi
Penerjemah : Fathurrydoo
Bab I: Mahmud Si Sopir
Sekarang ini kami telah sampai dengan selamat di kota Yerikho seperti yang ia janjikan. Aku masih belum bisa faham betul penyebab pastinya kejadian di tempat itu. Mungkin sebabnya adalah nasib, ponsel-ponsel, atau kecerdikan penduduk kampung, atau para pengawas. Atau kemungkinan bisa saja, sebenarnya takdirnya belum juga direstui setelah para penduduk Palestina meninggal karena sebab tragedi yang berlangsung di Jalanan. Namun hal itu bukanlah yang menyibukkan fikiranku, sekarang aku sedang memikirkan sopir taksi yang bernama Mahmud.
Aku berhenti untuk melihatnya
dibawah naung bayangan hotel itu, di tempat bernama Ramallah. Ia tiba sesegera
mungkin sebagaimana janjinya. Ini bukanlah hal yang aneh untuk Safrayat
Darwish, wanita yang dikenal ketelitiannya, supir taksi itu berputar
meninggalkan mobilnya dan turun ditengah gerimis hujan, dan menghadapku:
“Tuan
Bargutsi?”
Ia mengambilkan koper kecil untuk perjalannku dari lantai (koperku selalu
kecil agar nyaman ). Lalu bergegas menyediakan tempat pada bagasi mobil untuk
koper itu. Baik sekali, ia tidak membawanya ke atas mobil seperti koper-koper
lain. Kami tidak akan kehilangan banyak waktu lagi untuk mencari alamat-alamat
mereka di sekitar perbukitan Ramallah dan termpat-tempat nya yang rendah. Aku
duduk di dalam mobil taksi kuningnya. Aku berkata pada diriku sendiri ‘ini awal
yang baik bagi hariku’ .
Ia mengantarkan kami sampai Kota Yerikho tanpa satu kata pun. Seperti ia
sedang menyembunyikan suatu rahasia, dan mencari waktu yang tepat untuk
mengungkapkannya. Jelas, karena ia sudah memutuskan untuk menghindari batas Qalandya.
Pengelap kaca tak lagi berguna untuk membersihkan ketika tekanan kabut yang
mulai menyelimuti udara seperti warna seng, percuma saja perlawanannya dengan
hujan yang mulai bertambah deras. Mobil-mobil terlihat sedikit di jalanan dan
yang berlalu lalang terlihat lebih sedikit.
Kami telah melewati perbatasan Ramallah.
Semuanya terlihat
seperti biasa sampai sopir itu menerima panggilan dari ponselnya yang
menghentikannya dalam beberapa detik, kemudian ia menambah kecepatannya, sangat
cepat sekali. Setelah beberapa kilometer, ia keluar dari jalan umum, memasuki
desa yang ia lihat sebelumnya, aku tidak tahu nama desa itu. Aku merasa sungkan
untuk bertanya namanya. Lalu, ia menikung tajam mengikuti jalan. Kemudian
berbelok-belok diantara beberapa rumah sebelum kami keluar beberapa detik dari
jalan utama beraspal.
“Selamat pagi
semua, Saya Mahmud. Ini adalah mobil terakhir untuk menuju jembatan hari ini,
Israel telah mengumumkan pada diplomasi luar negeri kita, bahwa mereka akan
menyerbu pada malam hari atau besok dan Israel juga meminta mereka untuk
membuat rencana. Anak-anak haram! yang penting mereka punya banyak hubungan
luar negeri, sedangkan kami, seperti bukan manusia. Pasukan mereka melarikan
diri, jalanan terblokir, dan pesawat-pesawat ada di setiap tempat. Cuaca jelek
sebagaimana kalian lihat, namun kita seharusnya sampai ke jembatan itu dengan
bantuan ‘Allah’!. Kopi? Tuangkan untuk semuanya wahai tuan Haji”. Kaum tua
malah menjadi pembantu mereka, “Silahkan kopinya… ”
Para penumpang tidak
terlihat kebingunan atas kabar penjajahan Israel yang akan datang seperti yang
diumumkan Mahmud, namun seorang penumpang gemuk yang sedang duduk didepanku
di kursi tengah berkomentar dengan sindiran yang tajam:
“Sepertinya film ini
kurang seru!, mereka akan membunuh kita dengan kesepian setiap hari, dan pada
masa selanjutnya, mereka akan kehilangan kesempatan untuk membunuh kita (jika
kita tetap bersama), yang penting walaupun mereka sudah menyerbu kita ratusan
kali, pasti akan sia-sia saja, percuma! juga siapapun yang mencoba meniru
mereka, sangatlah bodoh akalnya. Mereka tak punya kegiatan lain selain memancing kita dan membunuh. Setiap kali mereka
menyerang, lalu memancing amarah, memborbardir dengan pesawat-pesawat, lalu
lepas landas, dan lalu apa lagi?
Tetangganya berkata:
“Yang benar saja! siapapun yang melihat penjajahan mereka pada desa-desa
kami dan tenda-tenda kami akan mengira mereka
keluar untuk memerangi Cina! Dengan kekuatan mereka itu mereka bisa menjajah
siapapun diantara kami, lalu membuang
kami ke luar negeri, memenjarakannya atau membunuhnya, meski tanpa tank-tank, juga
tanpa baju armor, maupun jet tempur F16,
bahkan Yasser Arafat juga (Presiden Pertama Palestina), siapakah yang
berwenang melarang kekejaman mereka?”
Ia berhenti berbicara
sejenak kemudian berkata dengan tenang seperti berbicara dengan dirinya sendiri:
“Tapi wahai pamanku, proyek
mereka tidaklah bagus. Menurut dugaan kita Israel menurut prediksi kita mereka tidaklah
terdesak bersama tentaranya, Sial, mereka melarikan diri meninggalkan
kita! Pelarian mereka bersamaan dengan pembunuhan kami semua. Proyek-proyek
mereka sama sekali tidak melibatkan Tuhan baik
sebelum, maupun sesudahnya, tahun demi tahun,
mereka sudah tahu bahwa kesombongan saja lah yang mereka libatkan. Andai kau punya
wewenang melarang mereka, tak diragukan lagi, mereka akan kalah telak… ”
Beberapa tahun yang lama
aku yang telah menjauh dari mereka. Anak-anak negeriku, dan juga dari detail kehidupan sehari-hari mereka— tak
dapat menganggap remeh rencana-rencana ‘horor’ mereka seperti saat menjajah
kota-kota dan desa-desa kami sendirian. Anak-anak dari
seluruh kota dan desa yang belum mendengar cerita tentang pertentangan ini,
mereka hanya dapat menganggap perkara ini seperti lelucon belaka. Begitu kah
kebiasaan mereka? Bercekcok, atau itu hanyalah sebuah kepercayaan yang
terhimpun oleh budaya lokal dari perpecahan ini? Atau itu adalah upaya pihak
oposisi yang berbentuk cara membuat mereka berlama-lama berada
di tempat itu?
Akhirnya ku putuskan tuk menerima
kenyataan kalau masalah ini biasa saja. Aku tidak akan memperlihatkan kegelisahanku besok atau lusa dari
apa yang akan diperebuat para teknisi kejam di camp Sabran dan Syatila
Palestina itu, saat tank dan tentara tangguh mereka dengan baju armor perangnya menyerang
di jalanan kita. Dalam diriku aku berkata pada jiwaku sendiri: andai
saja para pemimpinan kami lebih mengerikan dari Israel, andai pemimpin kami
juga mengetahui fakta dilema tentang Israel sebagaimana yang diketahui para
penumpang ini.
Supir itu menyeduh
racikan kopi dari bawah kakinya, lalu memberikannya untuk kakek penumpang disampingnya
dengan menuangkannya pada beberapa mulut gelas plastik kecil.
Bersamaan
dituangkannya pada gelas pertama aroma kopi mulai bercampur aroma ketakutan,
bertarung sengit, dan akhirnya aroma ketakutan lah yang menang.
“Semoga Allah menurunkan kesialan bagi
Sharon*. Ayo anak-anakku, berhati-hatilah darinya. Bagikan kopinya!
silahkan diminum… ”
*Ariel Sharon: Former Prime
Minister Israel ke-11 (1928-2014).
Segelas kopi dari tangan gadis
yang duduk didepanku akhirnya sampai, dari kursi sebelah tengah, kuterimanya
dengan hangat, ku angkat gelas itu menuju kedua bibirku, kuberi dia ciuman
pertama.
#novel Arab #novel Arab Terjemahan
#belajar bahasa Arab dasar #terjemah Arab
#Israel #novel palestina #Murid Al Bargutsi
#belajar bahasa Arab dasar #terjemah Arab
#Israel #novel palestina #Murid Al Bargutsi

No comments:
Post a Comment