Belajar Arab blog

Belajar Bahasa Arab Friendly, interaktif, dan mudah

Friday, 21 September 2018

Terjemahan: Novel Disana Terlahir Disini Part I



Disana Terlahir Disini 

Karya: Murid Al-Bargutsi
Penerjemah : Fathurrydoo

Bab I: Mahmud Si Sopir



Sekarang ini kami telah sampai dengan selamat di kota Yerikho seperti yang ia janjikan. Aku masih belum bisa faham betul penyebab  pastinya kejadian di tempat itu. Mungkin sebabnya adalah nasib, ponsel-ponsel, atau kecerdikan penduduk kampung, atau para pengawas. Atau kemungkinan bisa saja, sebenarnya takdirnya belum juga direstui setelah para penduduk Palestina meninggal karena sebab tragedi yang berlangsung di Jalanan. Namun hal itu bukanlah yang menyibukkan fikiranku, sekarang aku sedang memikirkan sopir taksi yang bernama Mahmud.  
Aku berhenti untuk melihatnya dibawah naung bayangan hotel itu, di tempat bernama Ramallah. Ia tiba sesegera mungkin sebagaimana janjinya. Ini bukanlah hal yang aneh untuk Safrayat Darwish, wanita yang dikenal ketelitiannya, supir taksi itu berputar meninggalkan mobilnya dan turun ditengah gerimis hujan, dan menghadapku:
  “Tuan Bargutsi?”
Ia mengambilkan koper kecil untuk perjalannku dari lantai (koperku selalu kecil agar nyaman ). Lalu bergegas menyediakan tempat pada bagasi mobil untuk koper itu. Baik sekali, ia tidak membawanya ke atas mobil seperti koper-koper lain. Kami tidak akan kehilangan banyak waktu lagi untuk mencari alamat-alamat mereka di sekitar perbukitan Ramallah dan termpat-tempat nya yang rendah. Aku duduk di dalam mobil taksi kuningnya. Aku berkata pada diriku sendiri ‘ini awal yang baik bagi hariku’ .
Ia mengantarkan kami sampai Kota Yerikho tanpa satu kata pun. Seperti ia sedang menyembunyikan suatu rahasia, dan mencari waktu yang tepat untuk mengungkapkannya. Jelas, karena ia sudah memutuskan untuk menghindari batas Qalandya. Pengelap kaca tak lagi berguna untuk membersihkan ketika tekanan kabut yang mulai menyelimuti udara seperti warna seng, percuma saja perlawanannya dengan hujan yang mulai bertambah deras. Mobil-mobil terlihat sedikit di jalanan dan yang berlalu lalang terlihat lebih sedikit.
Kami telah melewati perbatasan Ramallah.
            Semuanya terlihat seperti biasa sampai sopir itu menerima panggilan dari ponselnya yang menghentikannya dalam beberapa detik, kemudian ia menambah kecepatannya, sangat cepat sekali. Setelah beberapa kilometer, ia keluar dari jalan umum, memasuki desa yang ia lihat sebelumnya, aku tidak tahu nama desa itu. Aku merasa sungkan untuk bertanya namanya. Lalu, ia menikung tajam mengikuti jalan. Kemudian berbelok-belok diantara beberapa rumah sebelum kami keluar beberapa detik dari jalan utama beraspal.
“Selamat pagi semua, Saya Mahmud. Ini adalah mobil terakhir untuk menuju jembatan hari ini, Israel telah mengumumkan pada diplomasi luar negeri kita, bahwa mereka akan menyerbu pada malam hari atau besok dan Israel juga meminta mereka untuk membuat rencana. Anak-anak haram! yang penting mereka punya banyak hubungan luar negeri, sedangkan kami, seperti bukan manusia. Pasukan mereka melarikan diri, jalanan terblokir, dan pesawat-pesawat ada di setiap tempat. Cuaca jelek sebagaimana kalian lihat, namun kita seharusnya sampai ke jembatan itu dengan bantuan ‘Allah’!. Kopi? Tuangkan untuk semuanya wahai tuan Haji”. Kaum tua malah menjadi pembantu mereka, “Silahkan kopinya…  

Para penumpang tidak terlihat kebingunan atas kabar penjajahan Israel yang akan datang seperti yang diumumkan Mahmud, namun  seorang  penumpang gemuk yang sedang duduk didepanku di kursi tengah berkomentar dengan sindiran yang tajam:
“Sepertinya film ini kurang seru!, mereka akan membunuh kita dengan kesepian setiap hari, dan pada masa selanjutnya, mereka akan kehilangan kesempatan untuk membunuh kita (jika kita tetap bersama), yang penting walaupun mereka sudah menyerbu kita ratusan kali, pasti akan sia-sia saja, percuma! juga siapapun yang mencoba meniru mereka, sangatlah bodoh akalnya. Mereka tak punya kegiatan lain selain  memancing kita dan membunuh. Setiap kali mereka menyerang, lalu memancing amarah, memborbardir dengan pesawat-pesawat, lalu lepas landas, dan lalu apa lagi?

Tetangganya berkata:
“Yang benar saja!  siapapun yang melihat penjajahan mereka pada desa-desa kami dan  tenda-tenda kami akan mengira mereka keluar untuk memerangi Cina! Dengan kekuatan mereka itu mereka bisa menjajah siapapun diantara kami, lalu  membuang kami ke luar negeri, memenjarakannya atau membunuhnya, meski tanpa tank-tank, juga tanpa baju armor, maupun jet tempur F16,  bahkan Yasser Arafat juga (Presiden Pertama Palestina), siapakah yang berwenang melarang kekejaman mereka?”
Ia berhenti berbicara sejenak kemudian berkata dengan tenang seperti berbicara dengan dirinya sendiri:
“Tapi wahai pamanku, proyek mereka tidaklah bagus. Menurut dugaan kita Israel menurut prediksi kita mereka tidaklah terdesak bersama tentaranya, Sial, mereka melarikan diri meninggalkan kita! Pelarian mereka bersamaan dengan pembunuhan kami semua. Proyek-proyek mereka sama sekali tidak melibatkan Tuhan baik  sebelum, maupun sesudahnya, tahun demi tahun, mereka sudah tahu bahwa kesombongan saja lah yang mereka libatkan. Andai kau punya wewenang melarang mereka, tak diragukan lagi, mereka akan kalah telak… ”
Beberapa tahun yang lama aku yang telah menjauh dari mereka. Anak-anak negeriku, dan juga dari detail kehidupan sehari-hari mereka— tak dapat menganggap remeh rencana-rencana ‘horor’ mereka seperti saat menjajah kota-kota dan desa-desa kami sendirian. Anak-anak dari seluruh kota dan desa yang belum mendengar cerita tentang pertentangan ini, mereka hanya dapat menganggap perkara ini seperti lelucon belaka. Begitu kah kebiasaan mereka? Bercekcok, atau itu hanyalah sebuah kepercayaan yang terhimpun oleh budaya lokal dari perpecahan ini? Atau itu adalah upaya pihak oposisi yang berbentuk cara membuat mereka berlama-lama berada di tempat itu?
Akhirnya ku putuskan tuk menerima kenyataan kalau masalah ini biasa saja. Aku tidak akan  memperlihatkan kegelisahanku besok atau lusa dari apa yang akan diperebuat para teknisi kejam di camp Sabran dan Syatila Palestina itu, saat tank dan tentara tangguh  mereka dengan baju armor perangnya menyerang di jalanan kita. Dalam diriku aku berkata pada jiwaku sendiri: andai saja para pemimpinan kami lebih mengerikan dari Israel, andai pemimpin kami juga mengetahui fakta dilema tentang Israel sebagaimana yang diketahui para penumpang ini.
            Supir itu menyeduh racikan kopi dari bawah kakinya, lalu memberikannya untuk kakek penumpang disampingnya dengan menuangkannya pada beberapa mulut gelas plastik kecil.
            Bersamaan dituangkannya pada gelas pertama aroma kopi mulai bercampur aroma ketakutan, bertarung sengit, dan akhirnya aroma ketakutan lah yang menang.
            “Semoga Allah menurunkan kesialan bagi Sharon*. Ayo anak-anakku, berhati-hatilah darinya. Bagikan kopinya! silahkan diminum… ”


*Ariel Sharon: Former Prime Minister Israel ke-11 (1928-2014).
            Segelas kopi dari tangan gadis yang duduk didepanku akhirnya sampai, dari kursi sebelah tengah, kuterimanya dengan hangat, ku angkat gelas itu menuju kedua bibirku, kuberi dia ciuman pertama.

#novel Arab #novel Arab Terjemahan 
#belajar bahasa Arab dasar #terjemah Arab
#Israel #novel palestina #Murid Al Bargutsi
 

No comments:

Post a Comment