Belajar Arab blog

Belajar Bahasa Arab Friendly, interaktif, dan mudah

Sunday, 23 September 2018

Terjemahan: Novel Disana Terlahir Disini Part II


 Part II
...
Ini adalah kopi. Mungkin orang-orang telah menghabiskanya bergelas-gelas kopi itu, dan menuangkan lagi. kopi pada waktunya yang pas adalah hal yang  sempurna. Orang-orang mungkin berbeda pendapat tentang rahasia dalam kopi, mereka memiliki pendapat masing-masing yang berbeda: pada aromanya, warnanya, harganya, kemurniannya, campuran kapulaganya, suhu perebusannya, bentuk cangkirnya, atau sifat-sifat lain padanya.
Adapun aku, menurutku kopi itu adalah tentang timing. Hal terbaik dari kopi adalah waktunya. Semakin kau ingin kopi itu di tanganmu dengan segera, semakin kau akan megharapkannya. Momen saat kemewahan menjadi suatu kebutuhan itu lah bagian terindah dari gaya hidup. Kopi, seharusny ada seseorang disana yang menyajikannya kepadamu. Kopi itu sebagaimana mawar. Karena  mawar itu seharusnya dihadiahkan kepadamu oleh seseorang. Karena tak ada satupun orang yang menghadiahkan mawar untuk diri sendiri. Maka bila kusediakan kopi itu untuk dirimu, maka kau pasti saat itu dalam kebebasan tanpa memiliki perindu juga kekasih. Anehnya posisimu saat itu… Sekalipun hal itu adalah suatu pilihan, kau pun harus merogoh kocek untuk kebebasanmu. Bila  kebebasan itu adalah suatu keharusan, kau  pun juga perlu menekan bel pintu masuknya.
Kopi, warnan-warnamu berwujud rasa dan perasaan. Coklat pirang, hitam, hitam gosong, sedang, dibalut tampang orang yang menyajikanmu, akan menghasilkan makna-makna yang beragam. Maka kopi bagi mereka yang baru mengenal sebelumnya bukanlah kopi yang nikmat, bukan juga kopi yang akan langsung ditolak kehadirannya oleh tamu sebelum apa yang ia meminta untuk disuguhkan yang lain. Kopi untuk saat menulis, bukanlah kopi untuk saat membaca, yang untuk saat bepergian juga berbeda dengan yang untuk saat tidak, juga yang untuk saat di hotel berbeda degan saat di rumah, yang dimasak dalam tungku pun berbeda dengan yang dengan alat khusus.
Di dalam sebuah kafe kopi cantik itu sendiri lah yang berwajah gembira, ketika orang-orang memasang wajah suram cemberut menyedihkan.  Sekalipun pengunjung fajar mengatakan kalau kau diusir dari keluargamu dan ia mengarahkanmu secara halus dan senyum licik, kami ingin kau menikmati secangkir kopi dari kami, ini juga adalahlah salah satu jenis penculikan atau pembunuhan. Dia yang tolol yaitu yang mau menikmati kopi dari yang mengarahkan. Kopi saat pelaminan juga berbeda dengan kopi saat bela sungkawa dimana kau kehilangan setiap maknanya (kopinya tawar). Pelayan sedih yang  menyajikannya pada pengunjung pun tak tahu perihal tamunya yang sedang sedi, ia tak mengenali mereka dan tak menanyai mereka bagaimana bisa mereka lebih memilih kopi itu? Biarlah pelayan tetap menjadi pelayan, kopi tetap menjadi kopi yang cangkirnya bebentuk kerucut tanpa kuping. Waktu sama sakali tidak mendukungmu saat itu, begitu juga atmosfernya, hanya kopi itu lah yang dapat memperhatikanmu di hari seperti itu. Hanya kopi itu lah orang yang masih berduka sampai di penghujung hari itu. seakan-akan nama kopi itu merasa sedih karena kematian itu selamanya.
Pagi ini, Mahmud datang menyuguhi kopi untukku. Waktunya tepat sekali. Ia menemaniku bersama hujan deras di luar. Dengan bahagia, kopi itu seakan-akan berselisih dengan kabar-kabar buruk.
“Tapi merokok itu gratis, semoga Allah meridhai kalian. Semua ada waktunya, dan kita sudah sampai. ”
“Jam berapa wahai pak Haji? Tolong katakan dua jam, tiga jam, atau empat… kawan bapak menagatakan kadang kita bisa sampai, kadang tidak.”
Mahmud tersenyum lalu mengkoreksi perkataannya dengan percaya diri:
“Saya sudah bilang seharusnya kita sudah sampai”
Anak pada awal abad kedua dahinya luas. Pada pipi kiri nya terlukis tahi lalat memalukan. Namun tak pernah aku batasi jarak dengannya. Kedua matanya kecil bercampurkan warna hitam dan kilauannya. Percaya diri bak sebuah lampu baru. Siap sedia bak pengacara dengan hadiah rahasia pemikirannya. Meyakinkan suaranya tanpa terdengar patah-patahnya. Kurus meskipun saat memakai baju musim dingin. Karakternya serius namun terlihat santai menggampangkan. Tenang dan memenagkan. Meski muda umur, sudah dapat menyetir mobil dengan hati-hati, professional, dan terdepan, terlihat tanpa rasa hati-hati.
Diantara aku dan nyonya yang dibelakang kami ada seorang bocah bermuka sedih duduk. Aku berbicara pada diri sendiri pasti dia memiliki cerita dibalik kesedihannya. Aku yang tidak suka dipanggil “Tuan” pun tidak bertanya tentang kesedihannya, tapi seperti mencoba mengubah perasaannya sementara waktu. Akhirnya kutemukan senyum di bibirnya. Senyum jahat. Kedua matanya mengarahkanku pada pemandangan yang mengejutkan. Nyonya baik itu mengangangkat ujung kerudungnya dengan tangan kanan, lalu membentangkannya ke depan. Gerakannya melilitkan kain panjang hitam pekat itu dengan bagian bawah berlubang untuk mengeluarkan tangannya agar bisa meminumkan kopi ke mulutnya dengan cepat, Terlatih, terlihat dari jurusnya dalam hal ini. Kemudian ia uraikan ikatannya untuk menutup kerudung hitamnya dengan segera, sebelum ada orang yang melihat apa yang ia coba sembunyikan. Aku tercengang melihatinya, walaupun bocah ini baru sekali ini bertemu danganku ia telah menunjukkanku pemandangan ini, karena belum pernah aku temui sebelumnya melihat nyonya baik itu sedang menyantap minuman atau makanan di tempat umum. Namun, saat aku mengintipnya lagi, lalu terlihat ia membuka kerudung yang telah ia benarkan kembali, kemudian ia masukkan gelas kopi itu dengan hati-hati dibaliknya. Lalu ia telan tegukan lain. Sepertinya itu adalah kebiasaan rutin miliknya.
Pada ketiga kursi di tengah, gadis muda itu duduk. Rambutnya dikucir seperti ekor kuda dan kedua telingganya tidak beranting, (aku teringat kawanku yang tampan”Ali si tulang ikan” dan kepanikanya yang campur aduk mulai dari memungkiri kebutuhan seorang wanita akan anting untuk dipasang di kedua telinganya).  Juga ada dua laki-laki yang salah satunya pasti berbadan sangat pendek, dilihat dari pendeknya ukuran sorban dan kecilnya ukuran ikal yang dicantolkan di kursi. Aku hanya membayangkannya, tidak melihat langsung. Keduanya adalah pria gemuk berpenampilan lucu. Sebelum dia menyajikan kopi pada teman duduknya, Mahmud malah mengutarakan lelucon:
“Hei sobatku! kau beri ia kopi dan jangan gratis!!!”
Kami semua tertawa, sampai nyonya bercadar matanya juga tertawa dengan suara yang keras. Aku berkata dalam hati jika mahmud membuka lelucon dengan sahabat dekatnya, pasti ini tidak akan berakhir. Sepertinya Mahmud ingin memulai menambah-nambah percakapannya agar atmosfer berubah menjadi seperti rsuasana musim piknik, lalu ia berkata sengit:
“Apa mereka tidak memiliki kawan ?”
Lalu menambahkan ejekan berdialek Mesir:
“Orang Hebron adalah orang yang paling membingungkan, karena Hebron adalah negeri para pria…”
“Apakah kau sahabatku, Mahmud??”
“Iya, dulu. Sekarang aku sudah kapok…”
Kedua sahabat itu tertawa keras begitu juga kami yang bersama mereka. Mahmud berkata lagi, kali ini dengan sungguh-sungguh:
 “Aku berasal dari perkemahan Am’ari.”
Camp Ni’im  juga ambigu.”
Begitulah orang-orang Mesir saling bercanda tentang para petinginya, sedangkan lawakan orang-orang Suriah yaitu tentang penduduk Homs (nama kota di Suriah), lawakan orang Yordan kebanyakan tentang penduduk kota Thafilah, Lebanon tentang dongeng ‘ayahnya budak’ dan topik candaannya selalu tentang ‘mereka yang tidak berdosa’ melawan kekejaman. Adapun orang-orang Palestina, lelucon mereka penduduk kota Hebron, topiknya selalu tentang yang ‘keras kepala’. Orang-orang biasanya bertanya tentang akhir lelucon itu, namun Mahmud malah bertanya kepada penumpangnya yang berasal dari Hebron dengan pertanyaan yang jelas aneh tentang awal pertama lelucon yang dilontarkan, lawan pertanyaan orang-orang Hebron, penumpang itu pun menjawabnya sambil duduk:
“Demi Tuhan, Aku tidak tahu tapi contohnya serius, dahulu diceritakan ada orang Hebron yang terjatuh dari lantai 7 tapi tidak meninggal. Lalu ia berdiri sehat baik-baik saja. Seseorang dari mereka mengatakan—Ambillah seratus Lira (uang Turki bernilai 0.282941 U.S. dollars pada Juni 2017) lalu coba jatuhlah kedua kalinya—Namun orang Hebron itu menolak dan berkata—Lalu siapa yang menjamin kalau saya jatuh baik-baik saja kedua kalinya?—“
“Lalu apa kira-kira lelucon terburuk bagi penduduk Hebron? Maksudku lelucon yang paling tidak dapat dicerna?”, Tanya Mahmud kembali.
“Mungkin ketika seorang imigran, Baruch Goldstein menembaki para jamaah sholat di Masjid Ibrahimi, Hebron, Palestina dan menewaskan 29 warga Hebron. Lalu seseorang berkata setelah beberapa hari pembunuhan itu—Waktu itu mungkin jumlah korban akan lebih banyak, andai Baruch tidak berusaha menargetkan pada kepala mereka.”
Aku belum pernah mendengar lelucon seperti ini sebelumnya, meskipun pembunuhan itu terjadi pada tahun 1994. Jadi aku tak tertawa. Peristiwa-peristiwa pembunuhan semakin meluap-luap saat ku ulang-ulang mendengarkan lelucon pembunuhan itu. Perang ini tidak cukup hanya dengan militer yang disokong senjata-senjata modern terbaru. Orang Palestina yang tidak bersenjata akan tidak suka terlihat dramatis dikasihani. Disenjatai dengan tawa, ironi hingga rebutan kepemilikan, perolok-olokan atas drama yang terus berulang-ulang tanpa ada pencerahan setiap akhir titik perang. Tembok pagar berantai, gambar tentang larangan berjalan-jalan, pemblokiran yang berulang-ulang, dan penjajahan panjang membawa keluhan petaka diantara orang-orang. Sedangkan aku hanya kebingungan bila terbawa masalah itu, akan kah aku menjadi kuat atau lemah. Bila saja kegelapan kembali sebagai suatu kilauan dari ciri penghambaan, karena ia tetap percaya diri atas sebagai pemilik tunggal dari haknya. Maka bila begitu, ia akan menjadi bagian pelengkap rasa kemarahan dan menjadi penghimpun untuk munculnya unsur-unsur kekuatan rahasia. 


 
Sebelumnya                                                                                    Bersambung

No comments:

Post a Comment